Rabu, 08 April 2009
POLISI MODERN DAN KEJAHATAN TRANSNASIONAL
Masyarakat modern membutuhkan polisi modern. Polisi modern akan menghadapi kejahatan transnasional yang lazim terjadi di tengah masyarakat modern. Itu disebabkan kejahatan transnasional hanya bisa eksis jika dilaksanakan dengan cara-cara modern, disertai pemanfaatan teknologi (kejahatan) super canggih alias teknologi modern.
Bagaimana mungkin polisi di tengah masyarakat modern dapat mengejar kejahatan, kalau pelaku kejahatannya menggunakan kendaraan mobilitas tinggi, sementara polisi masih mengayuh sepeda, atau sepeda motor. Kalaupun polisi menggunakan mobil patroli, kendaraan bermotor yang dipakai pelaku kejahatan mempunyai kemampuan lari yang jauh lebih tinggi.
Polisi di tengah masyarakat modern butuh jasa pengangkutan, mulai yang bersifat tradisional maupun kendaraan bermotor. Di negara modern sekalipun, polisi berkuda sering kita lihat aktivitasnya mengatur ketertiban demonstrasi, yang dilakukan masyarakat tertentu. Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pun masih banyak naik kuda atau mengayuh sepeda ketika melaksanakan tugas, walau Polri punya sepeda motor, mobil, speedboat, helikopter atau lainnya, yang dapat digunakan sewaktu dibutuhkan. Gambaran polisi modern itulah yang diharapkan bangsa kita atas keberadaan dan kinerja Polri.
Polri yang modern, merupakan prasyarat mutlak masa sekarang dan mendatang, karena salah satu fungsi polisi adalah crime hunter. Polisi itu pengejar kejahatan, sehingga terpanggil untuk selalu menyesuaikan diri dengan kuantitas dan kualitas kejahatan di zamannya.
Di masa sekarang dan mendatang, kejahatan tradisional belum lenyap. Masih terlalu banyak kasus kejahatan di tengah masyarakat yang menggunakan pola tradisional, seperti mencuri kemudian melarikan diri (tanpa menggunakan kendaraan apapun alias berlari). Selanjutnya bersembunyi di rumah teman, karena polisi akan mudah mencarinya jika bersembunyi di rumah istri/suami, anak, atau orangtua.
Bentuk-bentuk kejahatan tradisional lain, pun masih tetap eksis, sebagaimana berlaku di era kejahatan modern, sekaligus transnasional. Karenanya, Polri perlu memiliki dan sekaligus mampu menggunakan peralatan modern, manajemennya berorientasi target, organisasi rapi dan kualitas personelnya
Kita tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin polisi kita bisa mencegah, mengejar dan menindak pelaku kejahatan modern tanpa dibarengi ketersediaan hardware, software dan brainware sebagaimana mestinya. Jika piranti kuat yang dimiliki aparat keamanan kita jauh tertinggal dibandingkan yang dimiliki dan dipergunakan pelaku kejahatan, maka kejahatan akan lebih sering terjadi.
Selain itu, piranti lunak -peraturan perundangan, kemauan politik pemerintah, sistem nilai dan norma publik- harus bersifat akomodatif dalam pemenuhan kebutuhan objektif Polri, sesuai tuntutan zamannya. Namun, meski piranti kuat dan lunak yang dibutuhkan Polri sudah disediakan negara (pemerintah), kalau tidak diimbangi brainware yang memadai, tidak pernah akan membawa kemanusiaan yang bersifat universal.
Di situlah arti penting kualitas pendidikan, pelatihan dan kejujuran bagi setiap anggota Polri. Kalau perilaku oknum polisi menyakitkan hati warga masyarakat masih terjadi di tengah kehidupan riil publik, omong kosong modernisasi Polri bisa membawa manfaat. Karena itu Polri yang modern harus mengisyaratkan landasan moralitas tinggi dari seluruh anggotanya. Moralitas tersebut harus mengiringi pemanfaatan teknologi tinggi, manajemen pelayanan prima, dan orientasi pengabdian yang terbebas dari keberpihakan kepada kepentingan apa pun, kecuali kepentingan negara dan masyarakat.
Semua itu, akan mendorong tidak lamban bertindak, sejak tahap prediksi, antisipasi dan pencegahan sampai tindakan konkret (penanganan) dan pemberian sanksi hukum bagi pelaku tindak pidana kriminal atau bentuk-bentuk kejahatan kemanusiaan lainnya.
Apa pun alasannya, polisi kita tidak boleh terlambat bergerak. Jangan sampai terdengar keluhan mereka terlambat mengejar pencuri sepeda motor atau mobil, karena kendaraan bermotor miliknya tidak ada bensinnya. Dalam situasi dan kondisi bagaimana pun, kendaraan bermotor Polri harus selalu siap pakai. Bensinnya penuh, bannya tidak gundul, mesinnya siap mengantar pemakainnya ke sasaran yang dituju.
Polri akan selalu berhadapan dengan bentuk-bentuk kejahatan aktual di tengah masyarakat, mikro dan makro. Karena itu Polri tidak boleh menutup-mata atas kejahatan transnasional yang beraneka ragam bentuknya. Antara lain, pelanggaran hak asasi manusia (HAM), pelanggaran hak atas kekayaan intelektual (HAKI) dan lainnya.
Konsekuensinya Polri harus siap menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat modern, terutama dalam konteks menghadapi kejahatan transnasional dan bentuk-bentuk kejahatan modern lainnya yang terjadi di negara kita. Konsekuensi ini memprasyaratkan kemandirian Polri. Dalam arti aparat kepolisian kita tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat kekuasaan dan alat politik dari kekuatan tertentu di negeri ini. Baik kekuatan eksekutif, legislatif atau yudikatif maupun segmen masyarakat tertentu.
Tuntutan itu mengharuskan Polri selalu berada di posisi terdepan dalam kerangka penegakan supremasi hukum di negeri ini. Bagi Polri, sebagai lembaga polisi modern di Indonesia, nuansa hukum harus jauh lebih solid dibanding lainnya. Bahkan, seharusnya Polri menepis semua bentuk intervensi politik dan kekuasaan yang bertentangan dengan profesinya.
Ke arah itu pulalah salah satu manfaat dari keberadaan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Sesuai tugas dan kewenangannya yang diamanatkan dalam Undang-Undang (UU) No 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Peraturan Presiden (PP) No 17 Tahun 2005 tentang Komisi Kepolisian Nasional. Lembaga itu berupaya mewujudkan Polri yang modern, yaitu Polri profesional dan mandiri dan di back-up moralitas anggotanya sebagaimana harapan dan tuntutan masyarakat.***
Penulis adalah anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas)
Minggu, 05 April 2009
PESAN PRESIDEN SBY
Jadilah polisi yang bermoral, profesional dan modern yang dicintai dan
dipercaya masyarakat. Mari kita tingkatkan kualitas pelayanan kepada
masyarakat dengan penuh ketulusan, kasih sayang dan penuh tanggung
jawab.
Jumat, 03 April 2009
CERITA POLISI BAIK
Bagaimana dengan polisi indonesia?
polisi indonesia yg baik ada tau....dideket rumah gw ada perempatan yg kadang lumayan padat jd msti diatur sama polisi. wktu tu ada kucing remaja yg mo nyebrang jalan dan liat kendaraan lalu lalang tu kucing pusing jd dia "ndepipis" [jongkok diem] ditengah jalan.
gw yg lagi lewat mbonceng motor trus liat tu kucing lngsung triak panik smbil lalu ke tuh mas polisi, "mas kucing mas singkirin kucing ntar ketabrak!!..." tu mas polisi brentiin kendaraan pake priwitan sama tongkat nyalanya trus dia ambil tu kucing n taro dipinggir jalan n_n
so swiiiittttt.....hohohohoho ^0^
Hoegeng, Polisi Teladan
Oleh Asvi Warman Adam
POLISI adalah institusi modern. Polisi tidak dikenal di dunia kangouw (persilatan). Pada cerita silat China, seperti dianalisis Denys Lombard, tidak ada polisi. Bila sebuah keluarga dibunuh musuhnya, si anak yang kebetulan selamat akan berguru kepada tokoh sakti dan akhirnya membalas dendam.
Seperti dikemukakan penulis Perancis, Casamayor, polisi adalah lembaga yang tak tergantikan. Polisi ibarat sepatu yang senantiasa dibutuhkan. Bila sepatu itu kemasukan air-karena di Jakarta sering banjir-apakah sepatu itu akan dibuang dan kita berjalan dengan kaki telanjang? Sepatu itu dikeringkan dengan menjemurnya, bila ada yang sobek dijahit, tetapi sepatu itu tetap diperlukan untuk melindungi kaki dari beling, paku, dan benda tajam lain.
Persepsi seperti ini yang sebaiknya dikembangkan dalam menghadapi berbagai tudingan terhadap berbagai kelemahan polisi saat ini. Dalam konteks ini bagus pula bila diangkat keteladanan seorang jenderal polisi, Hoegeng, untuk dicontoh.
HOEGENG lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921. Nama pemberian ayahnya adalah Iman Santoso, waktu kecil ia sering dipanggil bugel (gemuk), lama-kelamaan menjadi bugeng, akhirnya berubah jadi hugeng. Setelah dewasa bahkan sampai tua, ia tetap kurus.
Ayahnya, Sukario Hatmodjo, pernah menjadi kepala kejaksaan di Pekalongan; bertiga dengan Ating Natadikusumah, kepala polisi, dan Soeprapto, ketua pengadilan. Mereka menjadi trio penegak hukum yang jujur, profesional, dan memberi andil bagi penumbuhan sikap menghormati hukum bagi Hoegeng kecil, bahkan karena kagum pada Ating-yang gagah, suka menolong orang, dan banyak teman-Hoegeng ingin menjadi polisi.
Setelah lulus PTIK tahun 1952, ia ditempatkan di Jawa Timur. Tugas kedua sebagai kepala reskrim di Sumut yang menjadi batu ujian bagi seorang polisi karena daerah ini terkenal dengan penyelundupan. Hoegeng disambut secara unik. Rumah pribadi dan mobil telah disediakan beberapa cukong judi. Ia menolak memilih tinggal di hotel sebelum mendapat rumah dinas. Masih ngotot, rumah dinas itu lalu dipenuhi dengan perabot oleh tukang suap. Kesal, ia mengultimatum agar barang-barang itu diambil kembali oleh pemberi. Karena tidak dipenuhi, perabot itu dikeluarkan secara paksa oleh Hoegeng dari rumahnya dan ditaruh di pinggir jalan.
Maka, gemparlah Kota Medan karena ada seorang kepala polisi tidak mempan disogok. Di Medan, Hoegeng mengembangkan forum antikorupsi yang terdiri atas aparat hukum bersama tokoh sipil dan militer, yang mengadakan rapat sepekan sekali.
Seusai bertugas di Medan, Hoegeng kembali ke Jakarta. Untuk sementara ia dan istri menginap di garasi rumah mertuanya di Menteng. Ia lalu ditugaskan sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Selepas dari sini atas usul Sultan Hamengku Buwono IX, Hoegeng diangkat menjadi Menteri Iuran Negara dalam kabinet "seratus menteri" Juni 1965. Tahun 1966 ia kembali ke kepolisian sebagai deputi operasi dan tahun 1968 menjadi panglima angkatan kepolisian. Dalam jabatan ini, terjadi beberapa kasus yang menarik perhatian publik, seperti Sum Kuning, penyelundupan Robby Tjahyadi, dan tewasnya Rene Coenrad.
Kasus tertembaknya mahasiswa ITB, Rene Coenrad, merupakan salah satu lembaran hitam taruna Akabri/kepolisian. "Kesalahan berat dalam kasus ini adalah digunakannya senjata api oleh salah seorang taruna Akpol…," tulisnya dalam biografi Hoegeng yang akan terbit. Namun, yang diajukan sebagai terdakwa Brigadir Dua Djani Maman Surjaman yang dihukum 1 tahun 6 bulan. Ironisnya, sang taruna itu konon berhasil merintis karier sampai menjadi jenderal polisi.
Keuletan menuntaskan kasus besar itu menyebabkan Hoegeng diberhentikan oleh Presiden Soeharto. Sebelumnya Hoegeng merintis pemakaian helm bagi pengendara motor yang saat itu menjadi polemik. Kini terasa, instruksi itu memang bermanfaat.
Hoegeng ditawari jabatan duta besar di Eropa, tetapi ia menolak. Alumnus PTIK tahun 1952 ini lebih senang menjadi orang bebas, ia tampil dengan grup musik Hawaian Senior di TVRI, satu-satunya saluran televisi masa itu. Namun, musik barat dengan kalungan bunga itu dianggap kurang sesuai dengan "kepribadian nasional" oleh Menteri Penerangan Ali Moertopo sehingga ia tidak boleh tampil lagi. Lalu, Hoegeng bergabung dengan rekan-rekannya yang kritis dalam Petisi 50. Ia tetap sederhana. Saat rapat kelompok ini di rumah Ali Sadikin, tidak jarang Hoegeng naik bajaj.
APA yang mendorong Hoegeng menjadi tokoh yang bersih dan antikorupsi? Barangkali pendiriannya yang ditanamkan oleh ayahnya, "yang penting dalam kehidupan manusia adalah kehormatan. Jangan merusak nama baik dengan perbuatan yang mencemarkan." Ayahnya tidak sekadar memberi nasihat, tetapi bersama para sahabat ayahnya memberi teladan. Ayahnya seorang birokrat Belanda yang sampai akhir hayatnya tidak sempat punya tanah dan rumah pribadi.
Relevan dengan kondisi sekarang untuk merenungkan pendapat Hoegeng, "Pemerintahan yang bersih harus dimulai dari atas. Seperti halnya orang mandi, guyuran air untuk membersihkan diri selalu dimulai dari kepala."
Terhadap pemimpin yang kini saling berebut kekuasaan, tepat ujaran Hoegeng, "It’s nice to be important, but it’s more important to be nice". Ucapan yang sama sering dilontarkan penyiar Ebet Kadarusman. Kita tak ingin mengultuskan Hoegeng Iman Santoso. Sebagai manusia ia tentu memiliki kekurangan. Namun, dalam masa transisi menuju tegaknya hukum di negara ini, ia adalah seorang tokoh Indonesia yang patut diteladani.
Asvi Warman Adam Sejarawan LIPI