Jumat, 03 April 2009

Hoegeng, Polisi Teladan

Oleh Asvi Warman Adam

POLISI adalah institusi modern. Polisi tidak dikenal di dunia kangouw (persilatan). Pada cerita silat China, seperti dianalisis Denys Lombard, tidak ada polisi. Bila sebuah keluarga dibunuh musuhnya, si anak yang kebetulan selamat akan berguru kepada tokoh sakti dan akhirnya membalas dendam.

Seperti dikemukakan penulis Perancis, Casamayor, polisi adalah lembaga yang tak tergantikan. Polisi ibarat sepatu yang senantiasa dibutuhkan. Bila sepatu itu kemasukan air-karena di Jakarta sering banjir-apakah sepatu itu akan dibuang dan kita berjalan dengan kaki telanjang? Sepatu itu dikeringkan dengan menjemurnya, bila ada yang sobek dijahit, tetapi sepatu itu tetap diperlukan untuk melindungi kaki dari beling, paku, dan benda tajam lain.

Persepsi seperti ini yang sebaiknya dikembangkan dalam menghadapi berbagai tudingan terhadap berbagai kelemahan polisi saat ini. Dalam konteks ini bagus pula bila diangkat keteladanan seorang jenderal polisi, Hoegeng, untuk dicontoh.

HOEGENG lahir di Pekalongan, 14 Oktober 1921. Nama pemberian ayahnya adalah Iman Santoso, waktu kecil ia sering dipanggil bugel (gemuk), lama-kelamaan menjadi bugeng, akhirnya berubah jadi hugeng. Setelah dewasa bahkan sampai tua, ia tetap kurus.

Ayahnya, Sukario Hatmodjo, pernah menjadi kepala kejaksaan di Pekalongan; bertiga dengan Ating Natadikusumah, kepala polisi, dan Soeprapto, ketua pengadilan. Mereka menjadi trio penegak hukum yang jujur, profesional, dan memberi andil bagi penumbuhan sikap menghormati hukum bagi Hoegeng kecil, bahkan karena kagum pada Ating-yang gagah, suka menolong orang, dan banyak teman-Hoegeng ingin menjadi polisi.

Setelah lulus PTIK tahun 1952, ia ditempatkan di Jawa Timur. Tugas kedua sebagai kepala reskrim di Sumut yang menjadi batu ujian bagi seorang polisi karena daerah ini terkenal dengan penyelundupan. Hoegeng disambut secara unik. Rumah pribadi dan mobil telah disediakan beberapa cukong judi. Ia menolak memilih tinggal di hotel sebelum mendapat rumah dinas. Masih ngotot, rumah dinas itu lalu dipenuhi dengan perabot oleh tukang suap. Kesal, ia mengultimatum agar barang-barang itu diambil kembali oleh pemberi. Karena tidak dipenuhi, perabot itu dikeluarkan secara paksa oleh Hoegeng dari rumahnya dan ditaruh di pinggir jalan.

Maka, gemparlah Kota Medan karena ada seorang kepala polisi tidak mempan disogok. Di Medan, Hoegeng mengembangkan forum antikorupsi yang terdiri atas aparat hukum bersama tokoh sipil dan militer, yang mengadakan rapat sepekan sekali.

Seusai bertugas di Medan, Hoegeng kembali ke Jakarta. Untuk sementara ia dan istri menginap di garasi rumah mertuanya di Menteng. Ia lalu ditugaskan sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Selepas dari sini atas usul Sultan Hamengku Buwono IX, Hoegeng diangkat menjadi Menteri Iuran Negara dalam kabinet "seratus menteri" Juni 1965. Tahun 1966 ia kembali ke kepolisian sebagai deputi operasi dan tahun 1968 menjadi panglima angkatan kepolisian. Dalam jabatan ini, terjadi beberapa kasus yang menarik perhatian publik, seperti Sum Kuning, penyelundupan Robby Tjahyadi, dan tewasnya Rene Coenrad.

Kasus tertembaknya mahasiswa ITB, Rene Coenrad, merupakan salah satu lembaran hitam taruna Akabri/kepolisian. "Kesalahan berat dalam kasus ini adalah digunakannya senjata api oleh salah seorang taruna Akpol…," tulisnya dalam biografi Hoegeng yang akan terbit. Namun, yang diajukan sebagai terdakwa Brigadir Dua Djani Maman Surjaman yang dihukum 1 tahun 6 bulan. Ironisnya, sang taruna itu konon berhasil merintis karier sampai menjadi jenderal polisi.

Keuletan menuntaskan kasus besar itu menyebabkan Hoegeng diberhentikan oleh Presiden Soeharto. Sebelumnya Hoegeng merintis pemakaian helm bagi pengendara motor yang saat itu menjadi polemik. Kini terasa, instruksi itu memang bermanfaat.

Hoegeng ditawari jabatan duta besar di Eropa, tetapi ia menolak. Alumnus PTIK tahun 1952 ini lebih senang menjadi orang bebas, ia tampil dengan grup musik Hawaian Senior di TVRI, satu-satunya saluran televisi masa itu. Namun, musik barat dengan kalungan bunga itu dianggap kurang sesuai dengan "kepribadian nasional" oleh Menteri Penerangan Ali Moertopo sehingga ia tidak boleh tampil lagi. Lalu, Hoegeng bergabung dengan rekan-rekannya yang kritis dalam Petisi 50. Ia tetap sederhana. Saat rapat kelompok ini di rumah Ali Sadikin, tidak jarang Hoegeng naik bajaj.

APA yang mendorong Hoegeng menjadi tokoh yang bersih dan antikorupsi? Barangkali pendiriannya yang ditanamkan oleh ayahnya, "yang penting dalam kehidupan manusia adalah kehormatan. Jangan merusak nama baik dengan perbuatan yang mencemarkan." Ayahnya tidak sekadar memberi nasihat, tetapi bersama para sahabat ayahnya memberi teladan. Ayahnya seorang birokrat Belanda yang sampai akhir hayatnya tidak sempat punya tanah dan rumah pribadi.

Relevan dengan kondisi sekarang untuk merenungkan pendapat Hoegeng, "Pemerintahan yang bersih harus dimulai dari atas. Seperti halnya orang mandi, guyuran air untuk membersihkan diri selalu dimulai dari kepala."

Terhadap pemimpin yang kini saling berebut kekuasaan, tepat ujaran Hoegeng, "It’s nice to be important, but it’s more important to be nice". Ucapan yang sama sering dilontarkan penyiar Ebet Kadarusman. Kita tak ingin mengultuskan Hoegeng Iman Santoso. Sebagai manusia ia tentu memiliki kekurangan. Namun, dalam masa transisi menuju tegaknya hukum di negara ini, ia adalah seorang tokoh Indonesia yang patut diteladani.

Asvi Warman Adam Sejarawan LIPI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar