Trotoar, demikianlah namanya, semua orang pasti mengetahui semuanya baik fungsinya maupun bangunanya. Trotoar secara umum berfungsi sebagai tempat berjalan bagi pengguna jalan. Namun demkian beberapa trotoar telah berubah fungsinya dari tempat untuk pejalan kaki menjadi tempat menjual barang-barang. Salah satunya adalah trotoar di salah satu jalan di jambi tepatnya di sisi jalan simpang tugu juang sipin jambi di diseberang warung makan nasi uduk bang kulup.
Pada musim durian, ditempat tersubut dapat kita temukan berbagai macam buah durian dengan berbagai macam ukuran dan harga, tergantung selera kita dan tentunya disesuaikan dengan kantong kita. Pada musim rambutan dan duku demikian juga, akan terlihat banyak sekali buah buahan tersebut berjejer dari ujung sampai pangkal trotoar, cuman bedanya tidak ada variasi harga dan ukuran, rata-rata sama harganya per kg, yang membedakan adalah pada hari-hari tertentu kadang lebih muran dan kadang lebih mahal, nampaknya mengikuti hokum ekonomi yaitu penawaran dan permintaan.
Pada saat tulisan ini ditulis musim buah-buahan tersebut sudah lewat, namun bukanya kosong dari penjual dan barang jualan, malah lebih rame dari ketika musin tersebut. Ketika saya melewati kawasan itu banyak pewawat terbang berbagai ukuran dan maskapai, terbang di angkasa, bahkan terlihat juga pesawat tempur militer. Anak-anak dengan didampingi orang tuanya mengerumuni kawasan itu dan terdengar penjual menjajakannya. Yah itulah replika pesawat terbang yang terbuat dari balon udara.
Berubahnya fungsi trotoar dari tempat pejalan kaki menjadi tempat jualan terkadang membawa beberapa permasalahan yang muncul diantarannya adalah terganggunya pejalan kaki, kemacetan arus lalu lintas dan yang sering kita lihat dari media cetak atau surat kabar adalah konflik antara pedagang dan petugas.
Pejalan kaki terganggu, apa benar ya? Menurut saya kecil banget. Karena kalau kita amati apakan banyak orang-orang yang berjalan kaki di trotoar ? sepengamatan saya di domisili saya, sangat sedikit yang memanfaatkan trotoar sebagai tempat berjalan dari satu tempat ke tempat lain, mereka lebih suka menggunakan kendaraannya berpindah dari pada berjalan menggunakan kakinya dan mengeluarkan receh untuk parkir satu tempat ke tempat lain, walaupun jaraknya hanya beberapa meter dan beberapa blok. Kemacetan laul lintas, yah saya pribadi setuju jika berjualan di trotoar dapat menganggu kelancaran lalu lintas. Kalau saya melewati kawasan yang saya ceritakan diatas pada jam -jam tertentu, misalnya jam 19.00 sampai dengan 22.00 wib, akan mengalami kemacetan yang luar biasa, pada saat itu banyak pembeli yang sedang memilih-milih dan menawar pilihannya, dan tentunya mereka jelas tidak akan memarkir kendaraannya baik roda dua atau roda empat di tempat yang berjarak beberapa blok dari tempat itu, melainkan sudah pasti mereka memarkir kendaraannya di bahu jalan di sisi trotoar dekat tempat jualan. Konflik dengan petugas, Syukur sampai saat ini belum terjadi adanya konflik dengan petugas, kanflik yang saya maksud ini adalah digusurnya atau kata yang lebih kejam lagi adalah diusirnya secara paksa para pedagang oleh petugas, biasanya oleh Polisi Pamong Praja ( Sat Pol PP ), hal ini ada beberapa kemungkinan yaitu mungkin belum ada laporan dari masyarakat yang merasa terganggu dengan adanya berjualan di trotoar atau mungkin belum merusak tatana keindahan kota atau belum ada aturan yang dilanggarnya atau mungkin ada alas an pertimbangan lainnya, dan itu saya yakin pemerintah lebih mengetahuinya.
Namun kalau di pikir-pikir unik juga fenomena itu. Indah sekali suasana pada saat itu. Seni banget, apalagi jika kita ikut nimbrung di dalamnya, ikut jualan di situ atau ikut memilih yang kita inginkan. Uniknya dimana? Indahnya dimana? Dan seninya dimana? Cari sendiri, masuklah dan amatilah, kalau ada waktu akan saya ceritakan keindahannya, keuniknya dan seninya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar